
Cara Kerja Suspensi
Fungsi sistem suspensi sebenarnya untuk mempertahankan posisi penumpang mobil agar tidak berubah meskipun jalan yang dilalui bergelombang. Sistem ini idealnya dapat mengurangi kemungkinan penumpang menderita mabuk. Namun pada praktiknya sistem ini amat jauh dari ideal. Sistem suspensi didesain cuma efektif untuk menghadapi satu kemungkinan sumber getar.
Getaran dari kendaraan itu akan menimbulkan rasa tidak enak, semisal pusing dan mual jika timbul bertubi-tubi. Menurut teori, seperti yang diungkap Doan Syahreza Auditya, dalam telaahnya, hal ini terjadi karena konsep frekuensi pribadi (Wn). Menurut konsep ini, setiap benda di alam semesta memiliki frekuensi getar khas atau Wn.
Jika benda itu digetarkan oleh sumber getar dari luar dirinya pada Wn yang sama, benda tersebut akan bergetar tidak pada frekuensi sumber getar. Getarannya justru luar biasa hebatnya dan acap kali merusak. Banyak kasus jembatan runtuh diterpa angin yang tidak seberapa kencang. Ini terjadi lantaran getaran angin itu sama dengan Wn jembatan. Padahal, sebelumnya jembatan tetap kokoh dihantam badai besar.
Perut manusia pun demikian. Menurut penelitian, perut manusia memiliki Wn 5 – 7 cycles per second (cps). Karena itu, getaran mobil yang berfrekuensi 5 – 7 cps akan menimbulkan perasaan sangat tidak enak (mual) di perut. Di bawah 5 cps, perut kita merasa nyaman. Di atas 7 cps tidak senyaman frekuensi di bawah 5 cps, namun lebih nyaman daripada 5 – 7 cps.
Pada mobil, sistem suspensilah yang bertugas menghindarkan terjadinya getaran pada rentang frekuensi 5 – 7 cps. Oleh sebab itu para perancang mobil sangat mengidamkan sistem suspensi yang mampu membatasi getaran maksimum 1 cps. Jika ini tercapai, tidak ada lagi cerita mabuk darat, karena 1 cps nyaris tak terasa oleh manusia paling peka sekalipun. Tapi karena sistem suspensi tak mampu mencapainya, memperbolehkan getaran terjadi asal tidak pada 5 – 7 cps.
Secara fisik, node pitch terletak sedikit di belakang sumbu roda depan. Sedangkan node bounce terletak sekitar 0,5 m di belakang sumbu roda belakang. Kebaikan posisi ini, menurut Doan, adalah ketika mobil maju di mana node bounce selalu digerakkan dulu, baru kemudian node pitch. Hal ini menyenangkan penumpangnya karena gerak yang dominan adalah bounce yang lebih datar. Manusia memang jauh lebih sensitif dan terganggu oleh gerak pitch. (tot)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar